Murid SD Meninggal Diduga Bullying, Kak Seto: Pembiaran Masih Terjadi di SekolahMurid SD Meninggal Diduga Bullying, Kak Seto: Pembiaran Masih Terjadi di Sekolah

Murid SD Meninggal Diduga Bullying, Kak Seto: Pembiaran Masih Terjadi di SekolahMurid SD Meninggal Diduga Bullying, Kak Seto: Pembiaran Masih Terjadi di Sekolah

PEKANBARU (HALOBISNIS) - Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, yang akrab disapa Kak Seto, menyoroti kasus dugaan perundungan (bullying) yang menyebabkan MAR (13), siswa kelas VI SDN 108 Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru, meninggal dunia.

MAR diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekolahnya. Aksi itu terakhir kali dialami saat kegiatan belajar kelompok bersama teman-temannya di kelas.

Kak Seto mengatakan bahwa kasus perundungan kini semakin marak terjadi di berbagai daerah, terutama di lingkungan sekolah. Menurutnya, hal ini disebabkan adanya pembiaran sehingga kasus serupa terus berulang.

"Tidak ada langkah yang tegas dan serius, baik dari guru, kepala sekolah, maupun komite sekolah. Bahkan siswa SD pun sudah mengalami bullying," ujar Kak Seto, Senin (24/11/2025).

Ia mencontohkan satu provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat perundungan cukup tinggi. Di wilayah tersebut, sekitar 60 persen sekolah dasar disebut mengalami kasus bullying.

"Bahkan ada di sebuah provinsi (saya tak sebutkan namanya) boleh dikatakan 60 persen SD di wilayah itu mengalami bullying. Cukup tinggi itu," ungkap Kak Seto.

Menurut Kak Seto, tingginya angka tersebut terjadi karena tidak ada langkah pencegahan yang serius.

Ia menekankan pentingnya pemberitahuan kepada orang tua dan siswa bahwa sekolah harus menjadi sekolah ramah anak, yaitu lingkungan yang menolak segala bentuk kekerasan.

"Jika ada tindakan bullying atau kekerasan, maka harus ada sanksinya. Itu disampaikan sejak awal. Jika perlu, semua orang tua menandatangani komitmen tersebut," jelasnya.

Kak Seto menambahkan bahwa sanksi bagi pelaku harus sesuai dengan Undang-Undang Sistem Peradilan Anak. Jika pelaku terbukti melakukan kekerasan, ia dapat ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) untuk mendapatkan pembinaan tanpa tindakan kekerasan balasan.

"Jadi anak tetap dibina, tetap disadarkan. Tidak ada dengan (tindakan) balas kekerasan dan sebagainya," ucap Kak Seto.

Terkait kasus di Pekanbaru, Kak Seto menyampaikan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Riau untuk melakukan pengawasan.

"Kami baru mendengar ini. Kami segera komunikasi dengan ibuk Ester untuk mengawasi kasus ini dan melakukan pengawalan agar tidak terjadi lagi kasus-kasus di berbagai sekolah di Riau," pungkasnya.

Informasi, perundungan terjadi pada Kamis (13/11/2025), saat korban tengah belajar kelompok bersama teman–temannya di dalam kelas. Korban menerima tindakan kekerasan dari seorang murid berinisial F. 

Tindakan itu telah dilaporkan seorang teman korban berinisial A kepada wali kelas yang berada di dalam ruangan. Namun, wali kelas disebut hanya menanggapi dengan ucapan singkat, “Iya, tunggu".

Setibanya di rumah, korban menangis dan mengeluh kepada ibunya bahwa ia tidak ingin lagi pergi ke sekolah. Keadaan korban memburuk pada keesokan harinya, Ia mengalami kelumpuhan dan bercerita, kepalanya ditendang.

Keluarga membawa korban berobat alternatif karena keterbatasan biaya. Kemudian disarankan agar korban segera dibawa ke rumah sakit. 

Korban kemudian dibawa ke puskesmas, namun pelayanan tidak tersedia karena hari itu adalah Sabtu, sehingga ia kembali dirawat di rumah.

Selama mengalami kelumpuhan, korban beberapa kali mengingat dan menceritakan kembali kejadian yang dialaminya. 

Menurut keluarga, sebelum meninggal korban sempat meminta untuk dimandikan dan agar tikar digelar, sambil berkata bahwa rumah akan ramai dikunjungi orang. 

Pada Minggu (23/11/2025) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, korban mengembuskan napas terakhir saat keluarganya tertidur. 

Perundungan terhadap korban ternyata bukan pertama kali terjadi. Pada Oktober 2025, korban juga kerap mendapat perlakuan kasar dari murid lain berinisial S, yang disebut sering memukul dada korban. 

Akibat insiden itu, korban bahkan sempat dirawat selama satu minggu di Rumah Sakit PMC Pekanbaru. Pihak sekolah telah memanggil orang tua kedua belah pihak, dan orang tua pelaku saat itu meminta maaf kepada keluarga korban.

Berita Lainnya

Index