PEKANBARU - Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau menggelar Review Kurikulum 2026 sebagai upaya memperkuat kualitas pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan zaman, kebutuhan dunia kerja, dan transformasi masyarakat digital.
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Pimpinan Lantai II Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Forum ini melibatkan dosen, akademisi, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Ketua Program Studi PMI, Yefni, mengatakan review kurikulum menjadi momentum penting untuk mengevaluasi struktur kurikulum, capaian pembelajaran lulusan, metode pembelajaran, serta relevansi kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja masa depan.
Dalam forum tersebut, Yefni memperkenalkan visi baru Program Studi PMI, yakni terwujudnya Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam yang integratif, inovatif, unggul, dan berdaya saing global dalam pengembangan masyarakat berbasis Islam, teknologi digital, serta inovasi sosial berkelanjutan untuk mewujudkan masyarakat berkeadaban pada 2029.
Visi tersebut menjadi arah utama pengembangan kurikulum PMI yang menitikberatkan pada pendekatan sustainability, human-centered development, dan data-driven development dalam kerangka outcome-based education (OBE).
Menurut Yefni, pendekatan tersebut dirancang agar lulusan PMI tidak hanya memiliki kemampuan teoretis dalam pemberdayaan masyarakat, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), big data, serta pendekatan berbasis data dalam menyelesaikan persoalan sosial masyarakat modern.
“Kami ingin PMI melahirkan lulusan yang tidak hanya memahami teori pemberdayaan masyarakat, tetapi juga mampu menjadi social innovator, community engagement strategist, dan problem solver berbasis teknologi digital serta nilai-nilai keislaman. Dunia sudah berubah sangat cepat, maka kurikulum PMI juga harus bergerak lebih progresif dan futuristik,” ujar Yefni.
Ia menegaskan, transformasi kurikulum tersebut bukan sekadar perubahan administratif, melainkan langkah strategis untuk membangun pendidikan pemberdayaan masyarakat yang relevan dengan era digital.
Kurikulum baru PMI juga disusun untuk menjawab berbagai tantangan global, seperti Society 5.0, Revolusi Industri 4.0, transformasi digital, kesenjangan literasi digital, serta kebutuhan pembangunan masyarakat berkelanjutan berbasis teknologi dan nilai-nilai Islam.
Yefni menambahkan, pendekatan human-centered development menjadi fondasi penting agar pemanfaatan teknologi tetap berpihak kepada manusia dan kemaslahatan sosial.
Kaprodi PMI Dr. Yefni, M.SI (kiri) menjelaskan Executive Summary dari Review Kurikulum PMI pada Pleno Review Kurikulum 2026