Waspada Virus Nipah, Ini Kelompok yang Paling Rentan Terinfeksi

Kamis, 29 Januari 2026 | 09:10:00 WIB
Ilustrasi

JAKARTA (HALOBISNIS)  - Kekhawatiran masyarakat terhadap virus Nipah (NiV) kembali meningkat seiring munculnya laporan kasus di sejumlah wilayah Asia pada awal 2026.

Virus ini dikenal sebagai penyakit menular berisiko tinggi karena memiliki tingkat kematian yang signifikan serta kemampuan menular dari hewan ke manusia, bahkan antarmanusia.

Meski demikian, risiko infeksi tidak sama pada setiap orang. Memahami siapa saja kelompok yang paling rentan terpapar virus Nipah menjadi langkah penting agar upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih tepat dan efektif.

Virus Nipah, Penyakit Zoonotik yang Perlu Diwaspadai

Virus Nipah merupakan patogen zoonotik, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Virus ini termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae dan genus Henipavirus.

Reservoir alami virus Nipah adalah kelelawar buah atau flying fox, yang dapat membawa virus dalam cairan tubuhnya seperti air liur, urine, dan kotoran.

Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi sekresi kelelawar, hingga kontak erat dengan penderita virus Nipah.

Kondisi inilah yang membuat virus ini berpotensi menimbulkan wabah di wilayah tertentu, terutama yang memiliki interaksi tinggi antara manusia, hewan ternak, dan habitat alami kelelawar.

Kelompok yang Berisiko Tinggi Terinfeksi Virus Nipah

Tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama. Sejumlah kelompok diketahui lebih rentan karena faktor pekerjaan, lingkungan, maupun pola interaksi sehari-hari. Kelompok pertama adalah peternak dan pekerja ternak di wilayah berisiko.

Mereka yang bekerja di peternakan, khususnya peternakan babi yang berada dekat dengan habitat kelelawar buah, memiliki risiko lebih tinggi. Kontak langsung dengan hewan ternak yang terinfeksi atau lingkungan peternakan yang terkontaminasi sekresi kelelawar dapat menjadi jalur penularan virus Nipah.

Data kesehatan menunjukkan peternak babi dan pekerja yang menangani hewan dalam kondisi tersebut termasuk kelompok paling rentan. Kelompok berikutnya adalah pengumpul nira dan buah yang berpotensi terkontaminasi.

Masyarakat yang mengonsumsi atau mengumpulkan nira aren, jus segar, atau buah yang mungkin telah disentuh atau dikonsumsi oleh kelelawar juga berada pada risiko tinggi.

Virus Nipah diketahui dapat bertahan pada bahan makanan yang terpapar cairan tubuh kelelawar. Konsumsi tanpa proses pemanasan atau kebersihan yang memadai dapat memicu infeksi.

Tenaga kesehatan dan caregiver pasien Nipah juga termasuk kelompok yang sangat rentan. Petugas medis yang merawat pasien dengan infeksi Nipah berisiko tertular, terutama saat melakukan kontak erat dengan cairan tubuh pasien seperti darah, air liur, atau lendir pernapasan.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menegaskan tenaga kesehatan yang menangani pasien Nipah termasuk dalam kelompok dengan risiko lebih tinggi, khususnya bila prosedur pencegahan infeksi tidak dijalankan secara optimal.

Selain itu, tenaga laboratorium yang menangani spesimen pasien juga menghadapi risiko besar. Staf laboratorium medis yang mengelola atau memeriksa sampel dari pasien Nipah berpotensi terpapar virus jika terjadi paparan tidak disengaja dan perlindungan biologis tidak memadai.

Oleh karena itu, penerapan protokol biosafety yang ketat menjadi keharusan di lingkungan laboratorium. Kelompok lain yang tidak kalah rentan adalah keluarga dan kontak dekat penderita.

Anggota keluarga, kerabat, atau siapa pun yang tinggal serumah dan merawat pasien Nipah tanpa perlindungan yang tepat dapat tertular melalui kontak fisik erat. Risiko ini meningkat selama masa infeksi aktif, terutama jika tidak ada pemahaman yang cukup mengenai pencegahan penularan.

Faktor Risiko Lain yang Perlu Diperhatikan

Selain kelompok profesi tertentu, pada dasarnya siapa pun dari berbagai usia, latar belakang, dan jenis kelamin dapat terinfeksi virus Nipah apabila memiliki kontak langsung dengan sumber penularan.

World Health Organization (WHO) dan otoritas kesehatan nasional menegaskan bahwa risiko relatif meningkat seiring intensitas kontak dengan hewan terinfeksi atau pasien yang sakit.

Produksi dan konsumsi pangan yang terkontaminasi, seperti nira atau jus yang tidak dimasak, serta interaksi dengan lingkungan habitat kelelawar juga menjadi faktor risiko tambahan, terutama di komunitas tertentu yang masih bergantung pada sumber pangan alami.

Mengapa Kelompok Tertentu Lebih Rentan?

Kerentanan kelompok-kelompok tersebut tidak lepas dari karakteristik virus Nipah itu sendiri. Virus ini bersifat zoonotik, dengan penularan awal dari hewan ke manusia, kemudian dapat menyebar antarmanusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita.

Meski tidak menyebar luas melalui udara seperti virus pernapasan tertentu, penularan melalui kontak fisik erat tergolong cukup mudah.

Selain itu, hingga saat ini belum tersedia vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui secara luas untuk virus Nipah. Kondisi ini menjadikan pencegahan, kewaspadaan, serta deteksi dini sebagai langkah paling krusial dalam pengendalian wabah.

Kurangnya penggunaan alat pelindung diri, baik di fasilitas kesehatan maupun dalam perawatan rumah tangga, turut menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko infeksi pada kelompok tertentu.

Langkah Pencegahan untuk Kelompok Rentan

Upaya pencegahan virus Nipah berfokus pada pengurangan faktor risiko dan perlindungan terhadap kontak langsung. Masyarakat diimbau untuk menghindari konsumsi makanan atau minuman, termasuk nira, yang berpotensi terkontaminasi kelelawar tanpa melalui proses pemasakan atau pengolahan yang higienis.

Tenaga kesehatan dan petugas laboratorium wajib menggunakan alat pelindung diri yang sesuai standar saat menangani pasien atau spesimen. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun secara rutin setelah kontak dengan hewan atau orang sakit juga menjadi langkah dasar yang sangat penting.

Selain itu, masyarakat disarankan menghindari kontak langsung dengan hewan liar maupun hewan domestik yang dicurigai sakit, khususnya babi dan kelelawar buah. Langkah-langkah sederhana tetapi konsisten ini berperan besar dalam menekan risiko penularan di komunitas rentan.

Meningkatkan kewaspadaan, memperkuat edukasi kesehatan, serta menerapkan pencegahan berbasis risiko menjadi kunci utama untuk melindungi diri dan lingkungan sekitar dari potensi wabah virus Nipah, ter

Terkini