Akibat Tergerusnya Tradisi Kearifan

PP-IMABSII Laksanakan Acara Diskusi Publik

Dibaca: 499 kali  Rabu,25 Januari 2017 | 23:48:33 WIB
PP-IMABSII Laksanakan Acara Diskusi Publik
Ket Foto : diskusi publik PP -IMABSII

PEKANBARU-Pengurus Pusat-Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (PP-IMABSII). Pada hari Selasa (24/11/2017) kemarin melaksanakan acara diskusi publik tentang  'Perihal Tradisi Lisan dan Penggiat Sastra', di ruangan Direktur Sekolah Pascasarjana USU.

Hal ini menyangku dengan tradisi dan kearifan yang melekat di masyarakat kian tergerus oleh berbagai dinamika kehidupan. Kearifan yang kuat dan terus hidup hingga generasi berikutnya tentunya harus melewati filterisasi serta mampu lolos dari segala fragmen. 

Demikian disampaikan Pengurus Pusat-Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (PP-IMABSII) yang didampingi Drs. Irwansyah, M.S, dosen sesepuh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) bersama salah satu Pimpinan Pusat Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia (ATLI) sekaligus Direktur Pascasarjana USU, Prof. Robert Sibarani, Ph.D dan  Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI).

Menuru Prof. Robert Sibarani, Ph.D, berbicara terkait tradisi lisan tidak bisa melepaskannya dari lingkup bahasa dan sastra, mengingat sastra sebagai bahan baku sebuah tradisi dan kearifan lokal yang nantinya diteruskan secara oral dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui bahasa. 

"Ada transmisi sebuah kearifan terus hidup hingga saat ini adalah hasil dari tradisi masa lalu yang diwariskan,"ujarnya. 

Persoalannya ini, katanya, akibat begitu banyak tradisi dan kearifan yang tergerus bahkan tidak dikenali oleh generasi era digital masa ini. 

"Padahal ada nilai serta norma kehidupan yang melekat dan hidup di masyarakat dan turut memengaruhi keberadaannya. Permainan tradisional, gotong royong, cerita rakyat belum seluruhnya terangkat dan dinaskahkan secara sistematis dan kronologis,"sebutnya. 

Putusnya fase informasi, lanjutnya, berawal dari minimnya upaya meliterasi dan menuangkan tradisi itu dalam sebuah tulisan. 

"Karena  kuatnya suatu peradaban tentunya dengan adanya dokumentasi kearifan masyarakatnya, baik tulisan, artefak, grafik, maupun lisan,"tegasnya.

Dengan adanya masalah ini semestinya bisa diperhatikan oleh generasi muda, terlebih lagi IMABSII punya disiplin yang mengarahkan pada pelestarian tradisi lisan, cerita rakyat maupun kearifan lokal. 

"Tentunya, bahasa dan sastra tidak dapat dilepaskan dari tradisi. Bila sastra bahan baku, maka tradisi adalah performance/­aplikasi masyarakatnya yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui bahasa. Upaya menyelematkannya dengan berliterasi agar tradisi itu tidak hilang," ucap prof. Robert.

Beranjak dari program IMABSII untuk mengangkat tradisi maupun cerita rakyat yang belum terdokumentasi, kita berupaya untuk menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga yang bergerak pada tupoksi kegiatan ini. 

"IMABSII harus bergerak ke lapangan dengan mengobservasi, mewawancarai penduduk setempat yang diyakini daerah itu punya tradisi yang belum diangkat. Tulisan dari anggota IMABSII ini nantinya akan kita bukukan sebagai apresiasi ulang tahun IMABSII diusianya ke 13 tahun," cetus Sekretaris Jenderal IMABSII, Dira Wulandari.

Secara terpisah, kepala departemen Pengembangan Kebahasaan dan Kesusastraan PP IMABSII 2016-2018, Harmoko mengatakan. 

"Kegiatan ini bagian dari program IMABSII untuk mengangkat cerita rakyat yang belum terdokumentasi dan juga berupaya menyelamatkan kearifan dari masing-masing daerah yang kian hilang oleh pengaruh globalisasi," katanya.

Sekretaris Jenderal IMABSII, Dira Wulandari, mengungkapkan sudah saatnya generasi saat ini memiliki peran dalam upaya menyelamatkan suatu kearifan secara revitalisasi (mengaktifkan, mengelola, mewariskan) dan pelestarian (melindungi, mengembangkan, memanfaatkan). Karena IMABSII ada dan berada untuk negeri!.


Penulis : Pebriyan Koto 

Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
Berita Terkini
+ Indeks
indragiri