Beranikah Kejari Kampar Usut Hasil Temuan Ratusan Miliar BPK-RI di BPR Sari Madu 2014-2015 ?

Dibaca: 1917 kali  Senin,29 Agustus 2016 | 13:04:17 WIB
Beranikah Kejari Kampar Usut Hasil Temuan Ratusan Miliar BPK-RI di BPR Sari Madu 2014-2015 ?
Ket Foto : Kejari Kampar ditantang usut temuan di bpr sari madu

BANGKINANG KOTA- Kejaksaan Negeri (Kejari) Kampar, ditantang untuk mengusut laporan Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI). Terkait dengan temuan Kridit macet Rp.107 Milyar di BPR Sari Madu di Tahun2015 dan temuan BPK-RI 2014 Rp. 152Milyar. 

Demikian disampaikan Aktifis Anti Korupsi Nasional  M. Ikhsan, Senin (29/10/2016).

Ia menyebutkan mengenai tentang adanya temuan BPK-RI terhadap BPR Sari Madu, harusnya sudah bisa menjadi bahan penyelidikan oleh pihak Kejaksaan Kampar. 

"Jadi Kejaksaan jangan mencari alasan untuk menghindar-hindar, sehinga mengabaikan temuan yang jumlahnya sangat besar,"ujarnya.

M. Ikhsan mengatakan, semua ini terungkap saat Pandangan Umum Fraksi-Fraksi DPRD Kabupaten Kampar Terhadap RPP APBD Tahun Anggaran2015, yang diadakan Kamis (18/08/2016) lalu. 

"Jadi saya ingin mempertanyakan, apakah Kejari Kampar berani mengusutnya. Karena masalah uang ratusan miliar ini cukup luar bias dan harus jelas pertanggujawabannya. Untuk itu Kejaksaan, jangan hanya pandai mengusut kasus yang kecil-kecil saja,"tuturnya.

Ia juga menegaskan, untuk Kabupaten Kampar kasus Korupsinya sudah cukup besar, namun hanya jadi pembiaran oleh aparat hukum. 

"Mungkin untuk laporan korupsi yang dilaporkan oleh LSM dan mahasiswa sudah tinggi tumpukannya di Kepolisian dan Kejaksaan. Tetapi yang diperiksa kebanyakan pelaku kelas teri saja. Sedangkan kelas kakapnya dibiarkan begitu saja,"sebutnya.

Oleh karena itu Kejari Kampar, harus tunjukan taringnya supaya tidak di cap Mandul (Tidak Mengahasilkan) oleh masyarakat. Untuk itu ciptakan produknya sendiri. Dalam mengungkap kasus korupsi di Kampar yang nilainya ratusan miliar.

"Jangan hanya pandai terima berkas laporan ataupun pelimpahan dari Kepolisian. Karena itu hal yang memalukan dan dianggap masyarakat tidak bisa bekerja,"pungkasnya.


Penulis : Aulia

Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
Berita Terkini
+ Indeks
indragiri