Hanya WC Yang Tidak Terbakar

Kebakaran Iyo Basamo , Tokoh Masyarakat : Kebakaran ini, Ada Motif Menyalahkan Massa Yang Kontra

Dibaca: 1558 kali  Minggu,24 April 2016 | 07:23:52 WIB
Kebakaran Iyo Basamo , Tokoh Masyarakat : Kebakaran ini,  Ada Motif Menyalahkan Massa Yang Kontra
Ket Foto : ilustrasi kebakaran
KAMPAR- Hari Sabtu malam (23/04/16) kemarin sekitar Puku 19: 00 wib, Kantor Koperasi Iyo Basamo di Desa Terantang, Kecamatan Tambang, yang terbuat dari kayu dan beratapkan rumbio, mengalami kebakaran. Sehingga menghabiskan semua ruangan,  kecuali Water Closed (WC) yang tidak kebakar, karena agak berjahuan.
 
Menurut salah seorang Tokoh Masyarakat Desa Terantang Hendrizal, kebakaran kemarin itu cerita yang dia dapatkan dari masyarakat yang termasuk dalam kelompok tani 'Iyo Basamo', mereka berjarak lebih kurang 500 meter da tidak ada bentrok, namun tiba-tiba ada kebakaran dikantor mereka dan anggota hermayalis berhamburan lari.
 
"Jadi  saya menduga kebakaran yang terjadi ini ada motif untu menyalahkan anggota koperasi yang kontra dengan Ketua sekarang dipimpin 'Hermayalis'. Atau saya juga menduga ada motif untuk menghilangkan arsip Koperasi Iyo Basamo, karena didalam kantor itu tidak ada benda beharga ataupun peralatan kantaor"ujarnya, Minggu (24/04/16).
 
Hendrizal, juga menambahkan sengketa Koperasi Iyo Basamo ini di kepemimpinan ketua sekarang sudah berlangsung lama. Semua itu muncul karena ada dugaan penggelapan serta penipuan. Namun belum ada penyelesaiannya sampai sekarang.
 
"Jadi kalau ini belarut-larut tidak diselesaikan akan banyak korban yang muncul, karena sekarang ini sesama anggota Koperasi sudah punya masa yang pro dan kontra,"tuturnya.
 
Ia juga menyebutkan juga, sebelum terjadi kebakaran kemarin itu, dirinya sudah menghubungi pihak keamanan Polsek Tambang, untuk ada ditempat lokasi.
 
"Karena masa yang kontra, melarang untuk dilakukannya panen sawit terhadap lahan koperasi. Sebab saat itu, ketua koperasi sekarang membawa masa yang bukan anggota koperasi. Tapi tukang pukulnya ada dari luar, "ujarnya.
 
Dikutip dari www.halloriau.com.Peristiwa pembakaran ini terjadi, Sabtu (23/4/2016) sore hari. Kejadian berawal ketika sekelompo   warga desa ini mencoba menghalangi pihak Koperasi Iyo Basamo  yang juga berada di desa yang sama.
 
"Ada 30 orang pelakunya yang datang ke pengurus koperasi. Mereka datang membawa senjata tajam dan memaksa anggota koperasi untuk tidak memanen kebun sawit," ungkap Hermayalis, Ketua Koperasi Iyo Basamo, Sabtu (23/4/2016).
 
Menurut Hermayalis, sekelompok orang warga desa yang non anggota koperasi ini mengamuk. Setelah memaksa untuk tidak memanen, mereka lantas dengan brutal membakar 6 rumah dan 16 barak dan kantor koperasi. Satu unit sepeda motor juga turut dibakar."Kerugian kami taksir sekitar Rp 900 juta. Rumah dan barak yang dibangun koperasi semuanya ludes terbakar," kata Hermayalis, seperti dilansir detik.
 
Dijelaskan Hermayalis, koperasi bergerak bidang kebun sawit ini memiliki luas perkebunan 420 hektare (ha). Kebun ini milik anggota koperasi sebanyak 800 kepala keluarga."Selama ini koperasi bekerja sama dengan PTP Nusantara V. Modal kami membuka koperasi merupakan kredit dari bank. Kami sudah dua bulan ini terus diganggu oleh yang melakukan kerusuhan hari ini," kata Hermayalis.
 
Hermayalis mengaku telah menginformasikan hal itu ke Polsek Tambang saat sekelompok warga desa non koperasi datang."Kami sudah kasih tahu ke pihak kepolisian sejak siang. Tapi pihak kepolisian datang setelah rumah dan barak kami ludes," kata Hermayalis.
 
Kapolsek Tambang, AKP Rusiandi Zuhri Siregar ketika dikonfirmasi membenarkan atas kerusuhan tersebut."Benar ada pembakaran, tapi bukan rumah warga, melainkan barak pekerja yang lagi kosong," jelas Rusiandi.
 
Kendati demikian, pihak kepolisian belum berani menyebutkan motif dari kerusuhan ini."Kita masih menyelidiki apa penyebabnya. Mohon maaf, saya masih di lokasi kejadian malam ini, nanti dikabari lagi," kata Rusiandi.
 
 
Penulis : Aulia
Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
Berita Terkini
+ Indeks
indragiri