Sedapnya Emping Dadih, Yoghurt Tradisional Khas Minang

Dibaca: 958 kali  Jumat,22 April 2016 | 12:22:13 WIB
Sedapnya Emping Dadih, Yoghurt Tradisional Khas Minang
Ket Foto : Emping Dadih
Anda suka Yoghurt? Sammaaaa...Saya juga suka. Yoghurt adalah susu yang difermentasi. Yoghurt terbuat dari susu apa saja, termasuk susu kacang kedelai atau soya. Namun saat ini Yoghurt lebih banyak diproduksi dari Susu Sapi. Dari fermentasi tersebut menghasilkan tekstur seperti jel (gel) dan aroma yang unik dengan kecenderungan rasa asam. Yoghurt yang katanya berasal dari Eropa, merupakan makanan, mungkin karena bentuknya yang agak padat. Namun jika Yoghurt menjadi lebih cair bisa disebut sebagai minuman. Tapi itu tidak terlalu penting, yang penting adalah bahwa Yoghurt itu kuliner enak dan sehat. Supaya Yoghurt tambah enak, maka cara cerdas menikmati Yoghurt adalah dengan menambah aneka potongan buah segar atau menambahkan topping di atasnya. Untuk urusan yang satu ini, Orang Indonesia paling kreatif. Ada saja tambahan rasa unik yang mengundang selera. Misalnya, ada Yoghurt rasa Mangga, rasa strowberi, atau Yoghurt dengan tambahan potongan buah Ceri, Strowberi, lalu dikasih topping Coklat meses dan keju, dan lain-lain. Jadi, tidak ada lagi alasan orang tidak suka Yoghurt.
 
Dadiah Yoghurt 
 
Tapi tahukah Anda, ternyata di negeri ini juga ada daerah yang memproduksi Yoghurt sebagai makanan turun temurun. Dan uniknya lagi Yoghurt yang satu ini bukan terbuat dari susu sapi melainkan dari susu kerbau. Susu kerbau? Yup, betul. Apa bedanya dengan Yoghurt Susu Sapi? Tidak terlalu berbeda karena sama-sama berbahan dasar Susu. Hanya saja Yoghurt ini bahan dasarnya Susu Kerbau yang juga difermentasi. Namanya D a d i a h. Dadiah ini berasal dari Sumatera Barat dan sangat terkenal di daerah Bukit Tinggi, Padang, dan Padang Panjang.
 
Cara Membuat Dadih atau dalam Bahasa Minang disebut Dadiah 
 
Susu kerbau diperah lalu dimasukkan ke dalam tabung bambu berukuran sekitar 15-20 cm kemudian ditutup dengan daun pisang atau daun waru. Diamkan dalam suhu ruang hingga 2-3 hari. Masa ini cukup untuk merubah susu dari cair hingga mengental menjadi Dadiah. Dadiah yang sudah membeku tersebut, jika dibalik tidak akan tumpah. Ia sudah melekat dalam bambu. Dadiah baik digunakan dalam rentang waktu paling lama satu minggu sejak susu dimasukkan ke dalam tabung bambu. 
 
Dadiah Lebih Sedap Dipadu dengan Emping atau dalam Bahasa Minang disebut Ampiang 
 
Zaman dulu, Dadiah dimakan sebagai pengganti lauk untuk teman makan nasi di kalangan masyarakat luhak (pusat Minangkabau). Di sebagaian kalangan orang tua-tua lainnya, Dadiah dijadikan sebagai puding. Dengan bertambah majunya perkembangan kuliner, Dadiah saat ini lebih dikenal sebagai menu Sarapan yang dihidangkan bersama Ampiang dan cairan gula merah. 
 
Apa itu Ampiang? Ampiang terbuat dari beras ketan merah yang masih baru dari sawah, disangrai lalu ditumbuk hingga pipih. Hasilnya seperti flake atau pipih. 
 
Setelah Ampiang siap, lalu disiram seperlunya dengan air hangat, kemudian dicampur dengan kelapa parut dan sedikit garam. Setelah itu tuangkan air gula merah secukupnya. Kemudian sendokkan Dadiah di atasnya. Jika perlu boleh ditambahkan serutan es (iced shaving). Woooww.....mantap. 
 
Tapi bagi yang suka dengan Dadiah plain atau Dadiah yang asli, itu juga sedap. Cukup disantap begitu saja dengan menggunakan sendok langsung dari tabung bambu. 
 
Manfaat Dadiah Bagi Kesehatan 
 
Dadiah yang banyak mengandung bakteri baik probiotik, sangat baik untuk kesehatan pencernaan. Diantaranya Dadiah baik untuk menurunkan kadar kolesterol jahat, mencegah kanker usus, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Katanya juga, baik untuk meningkatkan vitalitas laki-laki.
 
Masa Depan Dadiah 
 
Boleh dikata Setiap Saya pergi ke Bukit Tinggi, Padang Panjang, Kota Padang Ibu Kotanya Sumatera Barat, saya paling suka makan Dadiah dengan Ampiang. kadang telunjuk saya masuk ke dalam tabung bambu mencolek Dadiah yang tersisa lalu menjilatnya. Hmmm....sedaaap, Saya kembali bernostalgia makan Dadiah di pasar atau di Rumah Makan di tepian Danau Singkarak. 
 
Terpikir oleh saya, mengapa Dadiah tidak dikembangkan lagi secara besar-besaran sebagaimana Yoghurt Susu Sapi yang sudah mendunia itu? Tinggal menggunakan sedikit tekhnologi pengawetan dan cita rasa baru, Dadiah bisa menjadi salah satu alternatif kuliner yang diangkat dari tradisi Indonesia. 
 
Mudah-mudahan,nama Dadiah akan semakin mencuat dan menjadi peluang bisnis baru yang menyehatkan. Jangan sampai, salah satu khasanah kuliner nusantara ini keburu dikembangkan oleh negeri lain lalu mempatenkannya sebagai hak milik bangsanya. 
 
Nah, Anda belum disebut penggemar Yoghurt sejati kalau Anda belum mencoba Dadiah. Coba, yuk!
 
 
Sumber: padangkuliner
 
Editor: AULIA
 
Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
Berita Terkini
+ Indeks
indragiri