2017 Karet dijadikan Campuran Aspal

Dibaca: 1428 kali  Jumat,15 April 2016 | 19:27:18 WIB
2017 Karet dijadikan Campuran Aspal
Ket Foto : Ilustrasi Pengaspalan Jalan
JAKARTA - Pemerintah bakal menggunakan karet sebagai campuran aspal pelapis jalan raya, mulai tahun depan. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto menyatakan lembaganya sedang menyiapkan regulasi yang akan dituangkan dalam bentuk peraturan presiden. "Aspal karet ini kan baru, jadi harus ada payung hukumnya," kata dia, di Jakarta, kemarin.
 
Dalam program ini, Panggah menjelaskan, karet akan digunakan sebagai campuran dengan komposisi sebesar 5 persen. Dengan kebutuhan aspal mencapai 1,2 juta ton per tahun, program ini diharapkan bisa menyerap sekitar 60 ribu ton karet.
 
Penyerapan karet domestik ini diharapkan akan mengurangi ekspor sehingga harga internasional pun terkatrol. Saat ini harga karet alam di pasar dunia sebesar US$ 1,2 per kilogram. Padahal, pada 2012, harganya bisa mencapai US$ 4,9 per kilogram.
 
Pemerintah juga berencana mendirikan pabrik aspal karet itu pada tahun ini. Pembangunan satu pabrik produsen aspal karet diperkirakan memerlukan waktu enam bulan. "Saya akan bertemu berbagai pihak terkait aspal dan karet untuk melihat siapa yang paling berpotensi membangun pabrik untuk mendukung proyek ini."
 
Menurut Panggah, penggunaan karet sebagai campuran aspal memang menaikkan ongkos produksi hingga 20 persen. Namun pemerintah dapat menghemat biaya perawatan hingga 40 persen. Hal itu telah dibuktikan oleh pemerintah Thailand.
 
Ia menyebutkan Negeri Gajah Putih itu semula membangun jalan aspal karet sepanjang 500 meter sebagai proyek uji coba. Hingga 10 tahun kemudian, kondisi jalan itu masih baik tanpa perawatan berarti. Kini Thailand mengembangkannya hingga 2.000 kilometer. "Jalannya bagus dan awet," kata Panggah.
 
Di Indonesia, pemerintah akan memilih Sumatera Selatan sebagai lokasi proyek percontohan. Alasannya, pemerintah sedang gencar membangun infrastruktur jalan di daerah sentra produksi karet tersebut.
 
Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) mendukung pemanfaatan karet remah atau crumb rubber untuk pembangunan infrastruktur di dalam negeri. "Ini akan menaikkan nilai bahan baku karet yang sedang turun," kata penasihat Gapkindo, Daud Husni Bastari.
 
Menurut dia, dari 3,2 juta ton karet remah yang diproduksi industri dalam negeri, sekitar 2,6 juta ton masih diekspor
 
 
Sumber: Koran Tempo
 
Editor: Aulia
Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
Berita Terkini
+ Indeks
indragiri