Pertamina: Distribusi BBM Indonesia Paling Rumit di Dunia

Dibaca: 509 kali  Rabu,23 Maret 2016 | 03:51:20 WIB
Pertamina: Distribusi BBM Indonesia Paling Rumit di Dunia
Ket Foto : Ilustrasi : Okezone

JAKARTA - Mata rantai distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia sangat kompleks, baik melalui laut maupun darat. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi mengamanatkan BBM harus tersedia di seluruh pelosok nusantara.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro mengakui, jaringan distribusi BBM di Indonesia termasuk paling rumit di dunia. Beragam upaya dilakukan Pertamina dalam mendistribusikan energi ke pelosok negeri, tak terkecuali ujung Timur Indonesia.

Menurut Wianda, hal ini dilakukan melalui peningkatan efisiensi dan efektivitas sarana sekaligus fasilitas, mulai dari darat, laut hingga udara. "Nilai penghematan distribusi BBM dari peningkatan tata kelola arus minyak per Desember mencapai USD255,25 juta," kata Wianda dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/3/2016).

Wianda mengatakan, dalam distribusi BBM di Indonesia, Pertamina memperkuat infrastruktur hilir dengan 273 unit kapal tanker, delapan unit kilang, dan 111 unit terminal BBM. "Pertamina juga memiliki 6.865 unit retail outlet dan 64 unit DPPU (Depot Pengisian Pesawat Udara)," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Alumni Akadami Minyak dan Gas Ibrahim Hasyim mengatakan, mata rantai distribusi BBM sangat panjang dan bertingkat. Transportasi laut tentu sangat rumit membawa ke pulau-pulau kecil dengan alur pelayaran yang dangkal. Begitu juga di darat yang lokasinya sangat tersebar dengan infrastruktur jalan dan jembatan yang sangat terbatas untuk mencapainya.

"Kondisi itu semua menuntut saluran distribusi yang bertingkat, terminal dan kapal yang besar sampai kecil. Kondisi ini hanya terjadi di sebuah negara kepulauan," kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim yang membedakan komponen harga BBM di Indonesia dengan negara lain karena ada pertimbangan ekonomi, sosial politik, dan lingkungan hidup. "Di Amerika Serikat saja, harga BBM antar negara bagian saja bisa berbeda. Akan tetapi penentu utama tentulah harga minyak mentah," katanya.

Ibrahim menyebutkan, harga BBM berkorelasi dengan biaya produksi dan transportasi. Jika penurunan harga BBM tidak signifikan tentu dampak terhadap biaya produksi dan transportasi pun menjadi kecil, kecuali jika peran biaya BBM dalam struktur biaya totalnya tinggi.

Peran pemerintah untuk mengaudit biaya itu perlu agar dapat diketahui berapa besarnya pengaruh penurunan harga BBM terhadap terhadap total biaya. "Kalau formula itu ada, pemerintah akan ada pegangan untuk mengawasinya," tukasnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Sudirman Said menyatakan, pemerintah akan menurunkan harga BBM jenis premium dan solar turun pada awal April 2016 di seluruh wilayah Indonesia. Pertimbangan penurunan harga BBM adalah tren penurunan harga minyak dunia dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan evaluasi tiga bulanan sebelumnya, pada Januari lalu pemerintah telah menetapkan perubahan harga BBM jenis premium dan solar. Pemerintah mengumumkan harga premium Rp7.050 per liter untuk luar Jawa dan Bali. Sedangkan solar Rp5.650 per liter karena masih disubsidi sebesar Rp1.000 per liter. Dalam APBN 2016 subsidi solar ditetapkan Rp16 triliun.

Editor : Nida SanGhary
Sumber : okezone.com

Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
Berita Terkini
+ Indeks
indragiri