Menjelajahi Otanaha, Satu-satunya di Indonesia Benteng Pinggir Danau

Dibaca: 406 kali  Minggu,13 Maret 2016 | 06:12:44 WIB
Menjelajahi Otanaha, Satu-satunya di Indonesia Benteng Pinggir Danau
Ket Foto : Bagian depan benteng Otanaha yang memiliki relung. Diperkirakan benteng ini dibangun oleh penguasa (Olongia) lokal Gorontalo untuk memantau danau.

GORONTALO  – Inilah kawasan benteng satu-satunya di Indonesia yang dibuat di pinggir danau. Komplek perbentengan Otanaha, yang terdiri atas 3 benteng di atas bukit Desa Dembe, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo.

Ketiga benteng itu adalah Otanaha, Ulupahu dan Otahiya. Ketiganya berdiri kokoh sejak ratusan tahun lalu. Komplek peninggalan masa lalu Gorontalo ini biasa disebut benteng Otanaha saja karena bentuknya paling unik dan posisinya paling atas.

Berbeda dengan benteng-benteng tua di Indonesia, yang lazimnya dibangun bangsa Portugis, Spanyol atau Belanda di tepi pantai, atau di gunung jika dibuat Jepang. Maka benteng Otanaha, Otahiya dan Ulupahu justru berdiri megah di atas bukit di pinggir Danau Limboto.

Benteng yang disusun dari bongkahan batu karang ini diduga dibuat oleh raja lokal di Gorontalo untuk mengawasi hamparan danau.


“Pada masanya Danau Limboto itu sangat luas dan penting, kapal-kapal bisa masuk ke dalam danau. Danau yang berada di atas bukit ini berfungsi sebagai tempat pengawasan,” kata Rosalina Rambung, Kepala Seksi Pelindungan Pengembangan dan Pemanfaatkan pada Balai Pelestarian Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, Sabtu (12/3/2016).

ARSIP IDHAM ALI Burung Kepudang Kuduk Hitam saat diabadikan di kawasan Benteng Otanaha, Gorontalo.
Dari atas benteng, ujung danau di sisi seberang bisa dilihat dengan jelas, demikian juga pergerakan kapal-kapal yang hilir mudik.

Keberadaan benteng ini menegaskan arti penting Danau Limboto pada masanya. Permukaannya yang luas terbentang dari wilayah Kerajaan Limutu hingga sebagian wilayah Kerajaan Gorontalo.

Diperkirakan beberapa desa di pinggiran danau seperti Lekobalo dan Batudaa dulunya adalah permukiman ramai.

Yang unik, di sekeliling dinding atas ketiga benteng ini terdapat celah untuk mengintai, mungkin juga untuk membidikkan senjata ke segala arah.

Jarak ketiga benteng tidak jauh karena berada dalam satu kawasan. Namun pengunjung harus rela naik turun jika ke Benteng Otahiya yang berada di bukit bagian bawah mendekati bibir danau.

“Kemungkinan benteng ini dibuat oleh raja lokal di Gorontalo untuk kepentingan menjaga Danau Limboto” kata Irna Sapta, arkeolog dari Balai Arkeologi Manado.

Nama-nama benteng tersebut berasal dari kepercayaan masyarakat yang mengatakan benteng Otanaha melekat pada anak Raja Ilato bernama Naha, Otahiya dari Ohihiya (istri Naha) dan Ulupahu yang berasal akronim Uwole (milik) dari Pahu (putra Naha dan Ohihiya).

“Untuk menjangkaunya tidak sulit, dari pusat kota Gorontalo hanya memakan waktu 15 menit dengan berbagai macam kendaraan. Bahkan pengunjung bisa memarkir kendaraan tepat di samping benteng Ulupahu yang paling besar,” kata Resma Kobakoran, Kepala Bidang Pariwisata Provinsi Gorontalo.

ARSIP IDHAM ALI Burung Madu Kelapa yang sering dijumpai di kawasan Benteng Otanaha, Gorontalo.
Panorama yang indah dan suasana sejuk, terutama pada pagi, bisa dinikmati sepanjang tahun. Angin segar penuh uang air dapat dirasakan di sini.

Bagi penggemar hidupan liar, kawasan benteng ini merupakan daerah jelajah beberapa spesies burung, termasuk yang endemik Sulawesi. Pada musim hujan, saat vegetasi tumbuh subur, banyak sekali burung yang datang. Mereka mencari makan di belukar dan pepohonan.

Para fotografer alam liar Gorontalo yang tergabung dalam Masyarakat Fotografi Gorontalo (MFG) pernah membuat dokumentasi, tercatat ada Kehicap Ranting (Hypothymis azurea), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Cabai Panggul Kelabu (Dicaeum celebicum), Raja udang (Todiramphus chloris), Wiwik Uncuing (Cacomantis sepulcralis), Kepudang sungu tunggir putih (Coracina leucopygia).

Berikutnya, Kepudang Kuduk Hitam (Oriolus chinensis), Kadalan Sulawesi (Phaenicophaeus calyorhynchus), Cirik cirik (Meropogon forsteni), Sriganti (Nectarinia jugularis), Burung-Madu Kelapa (Anthreptes malacensis), Punai Gading (Treron vernans), Elang Bondol (Haliastur indus), Bilbong Pendeta (Streptocitta albicollis), Kangkok ranting (Cuculus saturates).

ARSIP IDHAM ALI Burung Kadalan Sulawesi sering menyinggahi kawasan Benteng Otanaha, Gorontalo, setiap pagi.
Bahkan tarsius, monyet mungil sekepalan tangan juga ditemukan di sini. Hewan nokturnal ini berada di rerimbunan semak, saat senja atau menjelang fajar, suara “duet-call” jantan betina ramai memecahkan keheningan.

Keindahan peninggalan masa lalu selalu berbingkai pesona alam, Saatnya menjelajah di daerah penuh tantangan, Gorontalo yang memesona.


Editor : Nida SanGhary
Sumber : kompas.com

Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
indragiri