Yuk, Berinvestasi Secara Syariah

Dibaca: 387 kali  Selasa,08 Maret 2016 | 04:49:42 WIB
Yuk, Berinvestasi Secara Syariah
Ket Foto : Ilustrasi

JAKARTA - Masyarakat muslim mungkin ada yang bertanya-tanya, apakah bisa berinvestasi secara syariah di pasar modal Indonesia? Tidak perlu khawatir, karena Indonesia memiliki pasar modal syariah. Di pasar modal syariah, semua instrumen dan tata cara berinvestasi berdasarkan prinsip syariah. Tak hanya masyarakat muslim yang bisa menjadi investor pasar modal syariah, masyarakat non muslim pun dapat berinvestasi pada Efek syariah di pasar modal.

Kegiatan investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dengan berinvestasi harta yang dimiliki menjadi produktif dan dapat mendatangkan manfaat bagi orang lain. Salah satu upaya untuk mengimplementasikan pesan dalam Al-Quran ini yakni berivestasi melalui pada pasar modal syariah.

Definisi pasar modal sesuai dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM) adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan Efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Selain pasar modal konvensional, dalam perjalanan dikembangkan pasar modal syariah di Indonesia.

Pasar modal syariah adalah pasar modal yang seluruh mekanisme kegiatannya telah disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah. Baik mencakup emiten atau perusahaan milik publik yang dicatat di Bursa Efek Indonesia, jenis efek yang diperdagangkan dan mekanisme perdagangannya. Prinsip-prinsip syariah tentunya terlepas dari hal yang dilarang Islam, seperti riba, perjudian, dan sebagainya.

Secara umum kegiatan Pasar Modal Syariah tidak berbeda dengan pasar modal konvensional, namun terdapat beberapa karakteristik khusus Pasar Modal Syariah, yaitu bahwa produk dan mekanisme transaksi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah tadi.

Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah disebutkan bahwa Efek Syariah adalah Efek sebagaimana dimaksud dalam UUPM dan peraturan pelaksanaannya yang akad, cara, dan kegiatan usaha yang menjadi landasan pelaksanaannya tidak bertentangan dengan prinsip – prinsip syariah di Pasar Modal. Sedangkan yang dimaksud dengan efek syariah adalah efek sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal yang akad, pengelolaan perusahaan maupun cara penerbitannya memenuhi prinsip-prinsip syariah.

Sementara efek-efek syariah menurut Fatwa DSN MUI No.40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal mencakup Saham Syariah, Reksadana Syariah, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragunan Aset Syariah, dan surat berharga lainnya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Belakangan, instrumen keuangan syariah bertambah dengan adanya fatwa DSN-MUI Nomor: 65/DSN-MUI/III/2008 tentang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) Syariah, fatwa DSN-MUI Nomor: 66/DSN-MUI/III/2008 tentang Waran Syariah pada tanggal 6 Maret 2008, fatwa DSN-MUI Nomor: 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.

Sedangkan dasar diperbolehkannya transaksi jual-beli efek adalah Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) No. 80/DSN-MUI/VI 2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangkan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek. Hingga akhir 2015 jumlah saham yang masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) sekitar 318 saham, jumlah itu terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data BEI, pada 2011 lalu, saham syariah tercatat sebanyak 237 saham. Kemudian pada 2012, tercatat sebanyak 300 saham, pada 2013 tercatat 312 saham, dan 2014 sebanyak 316 saham.


Editor : Nida SanGhary
Sumber : okezone.com

Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
indragiri