Tragedi dan Kesempatan

Dibaca: 1294 kali  Sabtu,05 Maret 2016 | 12:11:27 WIB
Tragedi dan Kesempatan
Ket Foto : Wahyudi El Panggabean

This life will continue for who  is able to survive...

(Hidup ini akan berlanjut, siapa yang mampu akan bertahan...

John Waters, dalam Film: Boulevard of Broken Dreams)

 

 

SUKSES dan berumur panjang dua impian sekaligus, bagi banyak orang Ihwal serupa berlaku bagi profesi dan usaha yang kita jalani Pengalaman membuktikan, melakukan perubahan adalah strategi terbaik untuk bertahan. Berubah kemudian beradaftasi adalah indikator utama memenangi struggle for life.Di luar itu, kita butuh kesempatan.

 

Proses usia 70 tahun bagi seekor burung Elang merupakan ilustrasi menarik tentang makna “kesempatan”. Di usia 40 tahun, seekor burung Elang diberi ultimatum: diberi tambahan umur 30 tahun  atau kematian segera menjemput. Namun, untuk bertahan, butuh perubahan total. Itu sangat menyakitkan.

 

Di usia 40 tahun kondisi fisik burung Elang mulai melemah. Paruh atas memanjang, melengkung memayungi paruh bawah, hingga menyulitkannya mematuk makanan. Pertumbuhan kuku-kukunya juga menyulitkannya untuk mencakar. Bulu-bulunya tumbuh tak karuan.

 

Biasanya, menurut peneliti, Elang tetap memilih berubah. Terbang  pada puncak bukit tertinggi memulai prosesi mengerikan itu, suatu keharusan. Mengawali prosesi dengan mencabuti bulu-bulunya. Lantas, membenturkan paruhnya ke bebatuan. Berkali-kali hingga paruhnya patah dan lenyap. Selanjutnya, membenturkan kuku-kukunya sampai copot total. Tragis!

 

Elang harus bersabar dan bertahan menunggu tumbuhnya paruh, kuku dan bulu-bulu yang baru selama 3 bulan itu. Jika dia mampu bertahan, dia akan kembali “terlahir” sebagai Elang tangguh. Wajah baru, semangat baru. Siap mengepakkan sayap, mengarungi alam bebas di radius usia bonus 30 tahun….

 

Manusia juga begitu. Kehidupan dengan segala jenis profesi dan pekerjaan bertumpu pada posisi bertahan. Dengan displin, kesabaran, kerja keras, doa serta  strategi, kita berupaya bertahan. Toh, pada situasi tertentu, melakukan perubahan merupakan  harga mati. Ironisnya, kerap kali, peluang untuk berubah sering muncul dalam wujud peristiwa tragis. Akibatnya, sebagian besar orang mengubur impian dan cita-citanya karena tak mampu bertahan didera cobaan.

 

Tetapi, tidak bagi seorang John Wilson. Meski peristiwa ledakan kimia di laboratorium sekolah membutakan kedua matanya, saat dia duduk di bangku SMP, ternyata peristiwa tragis itu justru dijadikannya sebagai kesempatan melakukan perubahan. Dengan segala potensi yang dimilikinya Wilson terus melanjutkan sekolahnya hingga dia meraih reputasi gemilang dari prestasinya yang spektakuler.

 

Wilson segera belajar huruf braille dan melanjutkan pendidikan ke Worcester College for the Blind. Di sana Wilson didik menjadi , pendayung, perenang, aktor, musisi dan orator. Wilson kemudian kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Oxford dan meraih gelar sarjana hukum dari universitas kenamaan itu. “Aku malah tidak menganggap kebutaan inisebagai tragedi,” katanya.

 

Bekerja di  National Institute for the Blind memberinya kesempatan mengikuti penelitian ke berbagai wilayah Afrika. Di Afrika, kala itu terjadi penyakit kebutaan di mana-mana. Sekembali dari Afrika, Wilson mendirikan British Empire Society for the Blind kemudian  mengajak istrinya menjalani tugas kemanusiaan itu. Mereka rela tinggal di gubuk berlumpur di kawasan Ghana. Di sana 10 % penduduk mengalami kebutaan akibat gigitan serangga.

 

Lewat organisasinya, Wilson memberikan vaksin  Mectizan untuk mencegah kebutaan. Melakukan tiga juta operasi katarak, mengobati 12 juta orang berisiko buta. Menyuplai  vitamin  A untuk mencegah kebutaan bagi ratusan juta anak. Juga mendistribusikan paket belajar braille buat anak di Afrika dan Asia.

 

Tahun 1975 Wilson meraih gelar Ksatria dan Helen Keller International Award,Albert Schweitzer International Prize serta World Humanity Award.Artinya, Wilson memang kehilangan penghlihatan. Tetapi, dari tragedi itu,  Tuhan telah memberinya “penglihatan” baru untuk menyelamatkan ratusan juta manusia dari bencana kebutaan.

 

Chuk Close, seniman dan pelukis kenamaan Amerika menggunakan kesempatan kedua setelah tragedi kelumpuhan total menimpa dirinya. Setelah menerima penghargaan dari karya lukisnya di New York, dia berpidato pada sebuah acara saat dia merasa tidak enak badan. Close kemudian dilarikan ke rumah sakit. Ternyata, Close mengalami quadriplegia (kelumpuhan sebagain besar anggota tubuh).

 

Dia kemudian mengalami lumpuh total. “Seandainya saya bisa menggigit lidah, akan kusemburkan darah untuk melukis,” katanya. Lantas, dia segera meminta cat, kuas dan kanvas saat dia sudah bisa menggerakkan mulutnya. Close kemudian melukis menggunakan giginya.

 

Ketika lengan atasnya bisa digerakkannya sedikit saja, Close mulai menggunakan banyak warna. Close menciptakan bentuk lukisan baru yang kemudian setara dengan lukisan sebelum di mengalami stroke. Close tidak pernah menyerah. Justru meraih kesempatan kedua saat tragedi menimpa dirinya. Ia meraih sukses atas bencana itu.

 

Salah satu asumsi dasar sebagian orang, uang penentu utama dalam bisnis dan usaha. Mengutip istilah vokalis Trio Lasido’s, Jack Marpaung, “Hepeng do  na mangatur negara on” (uang yang mengatur negara ini).Meski bukan mutlak, asumsi ini, memang ada benarnya, “Toh, pada banyak kasus, uang justru kendala kesuksesan,” kata Prof. Dr. Fahmi Amhar dalam bukunya, 30 Jurus Mengubah Nasib.

 

Dari 30 jurus yang ditawarkan sang Profesor untuk mengubah nasib,  mengubah asumsi berada pada urutan teratas. Bagi Anda yang ingin memulai atau sedang menjalankan usaha dan bisnis, mengubah asumsi mungkin perlu Anda pertimbangkan. “Anda Pasti Bisa Jika Anda Pikir Bisa,” ucap Norman V. Peale.

 

Illustrasi burung Elang, tragedi yang dialami John Wilson serta kisah Chuk Close hanya sekadar pembanding. Saya yakin Anda lebih hebat dari itu….  [Wahyudi El Panggabean]

 

Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
indragiri