Kearifan Pebisnis

Dibaca: 1027 kali  Kamis,25 Februari 2016 | 13:58:40 WIB
Kearifan Pebisnis
Ket Foto : Wahyudi El Panggabean

Kemenangan pribadi mengawali kemenangan publik… [Steven R. Covey].

 

 

 

TIDAK perlu dibantah. Sebagian besar orang ingin hidup layak, berkecukupan. Meski, miskin bukanlah status pilihan, menjadi kaya, juga bukan takdir. Agaknya, obsesi ini yang mengundang sebagian besar manusia memasuki area bisnis.

 

Dunia bisnis diklaim sebagai sumber uang. Sumber kekayaan. Lantas, sesiapa saja yang ingin kaya: bisnis adalah areanya. Area dengan hiruk-pikuknya. Namun, meski memasuki area ini bermodalkan proyeksi finansial berikut trik  strategi jeli, para piawai, tidak selamanya beroleh laba. Justru rugi—adalah risiko yang kerap—sulit diabaikan. Menjadi kaya, tetap suatu ambisi.

 

Ambisiusme, memang pisau bermata dua. Sisi yang satu, penggugah motivasi. Sisi yang lain, peredam rasionalisasi. Ambisi, bisa mengaburkan objektivitas. Malah, bisa membuat manusia mengabaikan wilayah kekuasaan Tuhan. Padahal, suatu gagasan yang dimobilisasi dalam gerak bisnis, tujuan akhirnya: money.

 

Uang, mungkin wujud rezeki paling kasat mata yang dikenal manusia. Berbicara tentang rezeki berarti berbicara soal religi. Itu artinya seorang pebisnis, mesti mematrikan sikap religius dalam jiwanya sebelum memasuki khasanah entrepreneur ini. Urgen, mengadopsi sikap-sikap ke-Ilahi-an. Milikilah integritas!

 

Integritas, secara etimologi, berasal dari kata integer (Latin), artinya: utuh tanpa sentuhan noda. Di Indonesia, integritas dipadankan dengan kejujuan dan kearifan. Dua kata ini, ternyata sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Apapun pekerjaan dan profesi Anda.

 

“Kearifan lebih dibutuhkan dari pada pengetahuan  untuk mendeteksi bagaimana memanfaatkan satu-satunya kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Kearifan secara mendasar berbeda dan lebih dibutuhkan dibanding pengetahuan,” kata Dr. John Izzo.

 

Bagi kalangan pebisnis, gerak kinerja yang mengharuskan berkomunikasi dan berhubungan dengan banyak orang, menyempurnakan kehidupan secara privat identik memperkokoh pondasi suatu bangunan. Jika sikpa pribadi teguh, kehidupan di dunia publik, niscaya dimenangi.

 

Joe Vitale, mahaguru bidang "menulis" dari Amerika yang populer dengan trik hipnosisnya untuk menggaet jutaan pembeli produk, mengajak pebisnis untuk “menghipnosis” calon pembeli dengan kekuatan kata-kata. Inti dari ajarannya justru membuat calon pembeli lebih dulu berada dalam kondisi trans (terlena) saat itulah dia menjual produknya. Nyaris tanpa penolakan.

 

Tetapi, saat ditanya apa rahasia hypnosis paling ampuh, Vitale yang telah nyaris separo abad mengajar ilmu menulis dengan hypnosis dan telah kaya raya dengan ilmunya itu, menjawab enteng: “Pribadimu harus disukai orang. Karena orang hanya mau membeli kepada penjual yang disukainya”.

 

Rasulullah saw., seorang pebisnis ulung—yang sepanjang sejarah peradaban ummat manusia dikenal sebagai suami paling besar memberi mahar kepada istrinya, dari hasil bisnisnya---sosok yang mengedepankan pelayanan paripurna bagi pelanggannya. Sikap itu lahir dari integritas dan kearifan.

 

“Orang cerdas mengenal fakta. Orang kaya mengenal manusia,” kata Jhon Demartini. Ungkapan yang menyiratkan pengertian bahwa menjadi kaya hanya diperoleh dari hubungan sesama manusia. Untuk menjalin hubungan dibutuhkan sosok kepribadian yang setara. Awali bisnis Anda dengan menyempurnakan pribadi Anda!  Semoga bermanfaat.* [Wahyudi El Panggabean]

 

 

Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
indragiri