Kisah Kesultanan Siak-Riau, Menyumbang 13 Juta Gulden ke Pemerintah NKRI

Dibaca: 63 kali  Rabu,10 Juli 2019 | 14:06:38 WIB
Kisah Kesultanan Siak-Riau, Menyumbang 13 Juta Gulden ke Pemerintah NKRI
Ket Foto : Kesultanan Siak-Riau, Menyumbang 13 Juta Gulden ke Pemerintah NKRI
KESULTANAN Siak di Riau ternyata punya kekayaan melimpah. Di awal kemerdekaan, Sultan Siak menyumbang uang 13 Juta Gulden dan akhirnya bergabung dengan NKRI.
 
Mungkin banyak traveler yang belum tahu, kalau dahulu di Riau pernah berdiri sebuah kerajaan yang makmur lagi kaya. Nama kerajaan ini adalah Kesultanan Siak Sri Indrapura. Wilayahnya kekuasaannya pun sangat luas, mencapai daerah Sambas di Kalimantan Barat.
 
Bukti kekayaan Kesultanan Siak ini bisa dilihat dari begitu megahnya Istana Asherayah Al-Hasyimiyah yang dibangun pada tahun 1889. Istana berarsitektur Eropa ini masih bertahan hingga sekarang dan bisa traveler kunjungi bila liburan ke Siak, Riau.
 
detikTravel pun berkunjung ke istana ini pekan lalu, di sela-sela acara Famtrip Pesonna Hotel Pekanbaru. Selama berkeliling dan ditemani oleh pemandu bernama Sukri, detikTravel mendapat banyak cerita tentang betapa bijaksananya Sultan Syarif Kasim II dalam memimpin Kesultanan Siak.
 
Begitu mendengar kabar Indonesia merdeka di tahun 1945, Sultan Syarif Kasim II langsung memberikan dukungan. Tak hanya dukungan secara lisan, maupun moral, melainkan juga secara materiil.
 
"Sultan Syarif Kasim II menyumbangkan kekayaannya berupa uang sebanyak 13 Juta Gulden kepada pemerintah NKRI. Uang itu digunakan sebagai modal awal berjalannya pemerintahan di masa itu," ujar Sukri.
 
Uang sejumlah 13 Juta Gulden di masa itu tentu saja sangat banyak. Pernah ada yang menghitung kurs 13 Juta Gulden di tahun 2011, dan ternyata setara dengan 69 Juta Euro atau jika dirupiahkan sekitar Rp 1,074 Triliun!
 
Tak hanya itu saja, Sultan Syarif Kasim II juga menyerahkan mahkota Kerajaan Siak kepada Soekarno di Istana Negara pada 1945. Penyerahan mahkota ini menandai simbol bergabungnya Kesultanan Siak dan 12 wilayah kekuasaannya ke NKRI. Mahkota berlapis emas dan bertahtakan berlian ini sampai sekarang masih tersimpan di Museum Nasional.
 
"Sebelumnya Sultan Siak ditanya oleh Ir Soekarno, apakah ingin tetap ada Kesultanan Siak atau lebih memilih bergabung dengan RI? Setelah 7 hari merenung dan salat istikarah, Sultan memilih untuk bergabung ke NKRI," cerita Sukri.
 
Dengan bergabungnya Siak ke NKRI, otomatis sultan kehilangan hak atas Istana Asherayah Al-Hasyimiyah yang megah beserta seluruh isinya. Namun bagi Sultan Syarif Kasim II, hal itu tidak menjadi masalah karena dia lebih mementingkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadinya.
 
Sampai akhir hayatnya, Sultan Syarih Kasim II tinggal dalam keadaan miskin dan statusnya sebagai rakyat jelata di rumah peraduan. Rumah peraduan ini sangat sederhana, lokasinya berada persis di sisi barat kompleks istana.
 
Akhirnya di Tahun 1998, jasa-jasa Sultan Syarif Kasim II diganjar penghargaan dari Pemerintah RI berupa gelar Pahlawan Nasional yang diserahkan oleh Presiden BJ Habibie. Nama Sultan Syarif Kasim II pun diabadikan sebagai nama bandara di Kota Pekanbaru.
 
Traveler yang ingin menelusuri kisah hidup Sultan Syarif Kasim II bisa bertandang ke Istana Siak Sri Indrapura untuk melihat-lihat lebih dekat lagi. Istana ini buka dari mulai pukul 09.00 sampai 16.00 waktu setempat.
 
Sumber : Detik.com
Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
indragiri