Kajian Para Pakar Tentang Muara Takus

Muara Takus Sebagai Pusat Peradaban Melayu Tua di Nusantara

Dibaca: 527 kali  Rabu,01 Mei 2019 | 03:09:50 WIB
Muara Takus Sebagai Pusat Peradaban Melayu Tua di Nusantara
Ket Foto : Candi Muara Takus
SUMBANGSIH pemikiran, dan segala pendapat serta pandangan menjadi modal untuk menyusun langkah dalam memajukan sebuah tujuan. Duduk semeja seraya membentangkan sejumlah masukan, mengatur strategi dan juga mendengarkan bersama persoalan-persoalan yang sedang di hadapi, adalah tujuannya. Barangkali tidak menyelesaikan masalah tetapi ada upaya untuk menghatur langkah dalam kebersamaan.
 
Seminar nasional yang ditaja Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning pada Selasa (26/5/2015) lalu, menjadi ajang pertemuan para pemikir kebudayaan baik dari akademisi, budayawan seniman dan juga mahasiswa-mahasiswi.
 
Seminar yang diadakan di Aula Perpustakaan Universitas Lancang Kuning itu, menghadirkan pakar sejarah dari Universitas Gajah Mada, Prof Bambang Purwanto, Prof Suwardi Ms, tokoh masyarakata Kampar, Drs. A Latif Hasyim, M.M. Ke tiga pembicara ini membentangkan makalah mereka di sesi pertama yang dimoderatori oleh Budayawan Fakhrunnas MA Jabbar.
 
Sedangkan di sesi siang, tampil berbicara, seniman Budayawan, Taufik Ikram Jamil, drh Chaidir M.M dan juga ahli waris Ninik Datuk Dubalai berserta rombongan serta Ketua Yayasan Matankari, Amirullah S.Pd. Di sesi kedua ini, keberlangsungan seminar dipandu oleh Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Unilak, Hang Kafrawi.
 
Adapun tujuan mendudukan para pakar sejarah dan budaya di hadapan peserta seminar tidak lain untuk menggali informasi terkait dengan keberadaan candi Muara Takus. Seperti yang dilansir oleh Dekan FIB Unilak, Dr Junaidi dalam sambutannya. Katanya, seminar yang dilaksanakan bertujuan untuk memetakan, menafsir ulang keberadaan Candi Muara Takus sebagai pusat kerajaan Sriwijaya. Juga, dalam kesempatna itu, dapat mendiskusikan berbagai pendapat pakar tentang kaitan Candi Muara Takus dengan sejarah Sriwijaya dan Melayu.
 
“Selain itu, seminar ini untuk menghimpun berbagai pendapat, cerita, dan mitos terkait keberadaan Candi Muara Takus sehingga diharapkan dengan pertemuan ini, dapat pula menemukan berbagai cara, strategi dan kebijakan dalam mengangkat Candi Muara Takus yang seharusnya menjadi tempat wisata yang bisa dibanggakan di Riau ini,” ujar Junaidi.
 
Menurut Junaidi, banyak hal yang belum tergali dan perlu dikaji terutama oleh para akademisi terkait dengan keberadaan Candi Muara Takus. Seperti dari sisi, arkeolog, sejarahn, dan yang lebih penting lagi stupa-stupa sebagai bukti nyata yang banyak ditemukan. “Yang tak kalah menarik, keberadaan mitos yang ada di masyarakat. Saya kira, mitos ini mnejadi objek tersendiri yang menarik untuk dikaji. Nah, seminar ini, mungkin tidak memberikan solusi tetapi paling tidak diharapkan dapat membuka peluang untuk menyusun langkah atau setidaknya membuka laluan bagaimana upaya atau strategi untuk mengnagkatnya ke permukaan. 
 
 
I. Pandangan Para Pakar Tentang Muara Takus
 
1.Drs.Soekmono
 
Pandangannya tentang Muara Takus dijelaskan  di seminar Sejarah  dan Kebudayaan Minangkabau di Padang tahun 1970, diantaranya  dijelaskan  (Muchtar Lutfi,dkk,1977:64-65) sisa-sisa seni bangunan yang terpenting  di Sumatra Tengah, peninggalan purbakala itu adalah candi Muara Takus,dekat dusun Muara Mahat,ditemukan pula batu bersurat tetapi hilang jatuh kedalam sungai Kampar,dikutipnya pendapat Bosh Candi Muara Takus tidak lebih dari abad XII dan mungkin lebih muda lagi,dilihayt dari seni bangunannnya seperti biaro-biaro  di Gunung Tua ,Fapanuli yaitu abad XIII.Tulisan pada lempeng emas  tipis yang ditemukan Yzerman  tahun 1893 bertulisan huruf dewanegari  dari Singosari.
 
Krom berpendapat menurut huruf  dari tulisan itu Muara Takus berasal abad VIII,mirif dengan tulisan di Kalasan dan Ligor.Dari berita China disebut Candi Bungsu yaitu Chang T’ien wan show.
 
Moens dalam penelitiannya  Muara Takus adalah ibu kota Sriwijaya dalam abad VII.Stupa yang terkenal ialah bernama : Mahligai,di kompleks itu tidak kurang ada tujuh  bangunan. Yang pembangunanny a tidak sekaligus.Soekmono tidak menolak pendapat  Bosh dan Moens maupun Krom  mengenai bilamna gugusan  candi itu didirikan.Penamaan Candi atau stupa disini masih simpang siur.Pada hal bangunan itu bangunan suci Budha maka  disebut Stupa
 
2. Prof.Purbatjaraka, dalam bukunya Riwayat Indonesia
 
Kajian tentang pusat Sriwijaya berdasarkan terjemahan  terhadap prasasti Kedukan Bukit di Palembang ,antara lain  tentang  Dapunta Hiyang berangkat dengan   perahu membawa  tentara sebanyak 20.000 orang  dan 1312 orang  berjalan kaki  dari MINANGA TAMWAN, tujuannya membuat kota;Minanga Tamwan suatu tempat di Sumatra,terletak di Kampar, tepatnya di pertemuan sungai Kampar Kanan dan sungai Kampar Kiri di Riau.
 
Selanjutnya dijelaskan ,tamwan dalam bahasa Jawa kuno sama dengan temon, pertemuan dua sungai sama besarnya berarti pula  minanga kembar,ialah Kampar,di  situ ditemukan pusat Budga Mahayana di Muara Takus.Pertemuan sungai kampar kanan dan kiri  pada masa itu belum tetapi  yang bertemu itu Kampar Kanan dan Batang Mahat dalam areal Muara Takus di Kecamatan XIII Koto Kampar,di areal itu pula ada tempat bernama Minawa Kanwar, di mana dulunya ada prasasti yang belum diketemukan.
 
Slamet Mulyono perlu mencari Minanga Tanwan di Muara Tebo,Jambi,pendapat ini kurang meyakinkan.Secara umum Minanga Tanwan di Kampar-Riau yaitu di pusat kerajaan yang besar.yaitu kerajaan Katangka.terletak di suatu bukit di area antara Muara Takus dan Batu Bersurat, sekitar jaraknya 19 km. Di areal itu terdapat kompleks percandian Muara Takus  74x74 M,percandian  itu menunjukkan kebesaran agama Budha Mahayana (bangunannya tentu disebut Stupa, jadi kompleks Stupa Budha).
 
3. Ir.J.L.Moens dalam bukunya C,riwijaya, Java en Kataha (lihat ibid,96-)
 
Menjelaskan pula bahwa Yzerman  dahulu pertnah menemukan  tembok diluar  dari batu-batu bekas benteng  sebuah kota  membentang mulai dari Muara Takus  sampai Batu Bersurat (5 pal) yang menglilingi hampir seluruh dataran subur disana. Dikaitkannya letak  Muara Takus dan Batu Bersurat pada 0 derajat20 minit LU di khatulistiwa,sesuai berita I-Tsing,juga berita China pula tentang nama candi Bungsu yaitu Tcheng I’ien-wan-cha, Moens membaca candi Bungsu.
 
Langgam Candi ini sama dengan candi-candi  dinasti Caelendra di Jawa Tengah yang memerintah Sriwijaya.Kompleks candi itu dimiliki kerajaan besar yang memiliki rakyat yang banyak Sriwijaya tentunya.
 
4. F.M.Schnitger dalam Muchtar Lutfi,ibid,66
 
Dalam penyelidikannya tahun 1935,secara sepintas menyebuntukan ada Bukit Katangka  terletak di timur Muara Takus ,demikian pula Yzerman menemukan kepingan emas di Muara Takus dan sisa tembok yang berlapis-lapis  memanjang dari Muara Takus ke Batu Bersurat 19 km,Katangka terletak antaranya.lihat peta areal nya!.
 
5. W.J.d.v Meulen
 
perkataan Kalanka sama dengan kalanka, yaitu kala = waktu, lanka = liku, ukiran, tanda dsb. Jadi mungkin Katangka sebagai Kerajaan yang masa Sriwijaya sebagai wilayahnya dan setrusnya sebagai ibu Kota.
 
6. Bambang Budi Utomo,dkk, dalam buku: Riau Pada Masa Klasik Indonesia, 2012:6-32,menjelaskan:
 
Tahun 2010 melakukan penggalian Situs Kompleks  Percandian Muara Takus untuk mengecek tinggalan budaya yang terkandung didalam tanah radius tertentu. Tinggalan budaya di Kompleks Muara Takus sudah terkenal secara nasional dan internasional.Menurut tim ini Kompleks percandian Muara Takus diperkenalkan oleh Cornets de Groot,pada 1860:”Kota Tjandi” dalam TBG 9:531-533.Akibat publikasinya banyak peneliti yang berminat diantaranya Van Beest Holie,1879,Schenitger,1937 dan 1939, menemukan bunga taratai di runtuhan candi candi Bungsu, ditemukan abu dan lempengan emas bergambar wajra dan tulisan aksara nagari.
 
Sebelumnya Groenevelt th 1880,Verbeek dan Van Deden,menemukan tembok pagar keliling kompleks percandian.Pada 1889 Ijerman (Yzerman) juru gambar Belanda melakukan penggambaran dan pengukuran bangunan kompleks percandian Muara Takus.
 
Selanjutnya pada 1973 dilakukan  penelitian Lembaga purbakala dan peninggalan nasional  bekerjasama dengan University of Penylvania  survei  dan ekskavasi di Muara Takus  dan th 1976 ditemukan pecahan kramik Tiongkok  zaman dinasti Song abad ke 13 M,ditemukan juga lempengen perunggu  ditulis dengan aksara Nagari ,tulisan berasal abad ke 7 M dan 12 M.Tahun 1977 diteruskan penelitian di Muara Takus hasilnya menemukan tembok pagar keliling kompleks 
 
Percandian Muara Takus .Disebut bangunan 3,4,5, dan 6 .letak bangunan5 dan 6 sebelah barat daya percandian diseberang sungai KamparPada th 1983 dan 1985 diteruskan penelitian  dengan ekskavasi disekitar kompleks percandian Muara Takus ,Candi Tua dan candi Bungsu.Foto lihat di buku halaman 9.
 
Pertanggalan ,Moens berpendapat pertanggalan Muara Takus abad ke 7-8 M; Krom (1923) pertanggalan Muara Takus sekitar abad ke 7M didasarkan aksara Nagari di Muara Takus = di Vieng sa, c.f Bosh,1930,katanya prasasti singkat  berasal abad 12 M;Schnitger mengajukan pertanggalan Muara Takus abad 11 dan 12 M.Demikain juga Kempers sama dengan Schenitger abad 11 atau 12 M atau 12-14 M..Pendapat ttg pertanggalan belum sama perlu analisisnya melalui pertanggalan karbon C-14(Carbon Dating C-14 melalui sampel arang.
 
II. Hub.Muara Takus sebagai pusat-pusat
 
1. Pemerintahan
 
Pusat pemerintahan di Muara Takus dikenal Kerajaan Katangka terletak disebuah bukit diselatan sungai Kampar Kanan. Penggalian oleh Tim Penyusunan dan Penulisan Sejarah Riau th 1970-an  ditemukan makam dan  tembikar dan keris di bukit tersebut,diperkirakan berusia abad ke 15 M. Sebutan lain untuk daerah ini Sijangkang.Katangkaberarti kelanko ,bangunan berbentuk  stupa. Motif bangunan dituangkan dalam anyaman disebut katang atau katang-katang, penyimpan benda berharga. Kelanko, tempat suci atau tumpuan. Kerangko = tempat tinggi untuk pengintaian  atau peninjauan.Van der Meulen: ketangka dari kata kelangka terdiri dari kelng dan angka,waktu,anka = liku, ukiran atau tanda dsb. Kerajaan ini selanjutnya dipimpin oleh para Datuk-Datuk
 
Ramli Dt.Rajo Duobalai, mengatakan dari keterangan dari nan tuo-tuo, niniok turun ke datuk, dari datuk ke mamak dari mamak turun ke anak kemenakan dan ke cucu sampai  sekarang bertebaran  ke limo kabuang air nan batobek bak barau baturiong bak salimang nan sa adat  salimbago nan sa hino samalu nan tasabuik limo kabung air yaitu : Pertamo Kampar Kanan ,keduo Kampar Kiri, katigo lare kapur (kapur 9) kaompek Tapung Kanan, dan yang kalimo Tapung Kiri.
 
Itulah yang disobuik lima kabung air. Pada abad 10 M disusunlah Andiko nan 44 diwaktu itu rapat besar dipanggil oleh rajo ke Muara Takus di Balai Tanah Muara Takus pemerintahan Sriwijaya di pindah ke Palembang.
 
Di Muara Takus dibentuk Kerajaan berpusat di Muara Takus bernama Andiko nan 44.
 
Pemerintahan limo kabuang air terdiri dari susuanan Andiko 44 yaitu : (1) Kampar kanan  21 andiko,  (2) Kampar kiri 6 andiko, (3).Tapung Kanan 3 andiko, (4).Tapung Kiri  5 andiko, (5). Lare Kapur  4 andiko, (6). Pintu Raya    1 andiko, (7).Rokan 1 andiko, (8). Tanjung Sengingi 1 andiko, (9). Lapan kota setingkai 1 andiko. Seluruhnya 44 andiko.  
 
Para pimpinan digelari datuk dengan  gelarnya antra lain Datuk Bosar di Seberuang, Datuk Sati Gunung Malelo, Datuk Monggong: Gunung Bungsu, Datuk Bongsu Pongkai, Datuk Bandaro, Tanjung. Datuk Malintang Koto Tuo
 
Secara Hukum Muara Takus dikenal sebagai telaga Undang. UU di Kampar Kiri, Undang jati di Kampar Kanan di Bangkinang. Dari ketentuan itu, negeri ini berdasarkan Adat dari keturunan Ibu = matrilineal atau adat Perpatih
 
2. Pusat Agama dan Pendidikan,bahasa Melayu kuno dan Sansekerta
 
Muara Takus  dengan kompleks Stupanya adalah sebagai kompleks bangunan suci Agama  Budha Mahayana; sekaligus tempat belajar agama dipimpin oleh seribu biksu dan biksuni, diantaranya terkenal guru Syakyakirti dan Dharmapala.Diantaranya  I Tsingpun  pernah belajar bahasa Sansekerta sebelum ke India Mereka yang dididik di Muara Takus  dan setamat meneruskan ke Universitas Nalanda  di India, lihat Prasasti Nalanda dan Tanjore.
 
Sebagai tradisi bahwa gajahpun melakukan penyembahan ke stupa pada setiap bulan purnama(cerita Rakyat)
 
3. Muara Takus punya pelabuhan di Muara Mahat
 
Sebagai pelabuhan perdagangan dikembangkan ke India, China dan negeri-negeri di sepanjang Selat Melaka .Komoditi berupa hasil-hasil hutan,emas, serta berkembang pelayaran sebagai negeri maritim.sebab  masa jaya MuaraTakus ,sungai Kampar disebut sungai Embun.
 
4.  Posisi Adat
 
Adat berposisi sebagai pemegang teraju kepemimpinan sejalan dengan kedudukan sebagai pusat pemerintahan dari Andiko 44 tsb diatas. Pemimpin Adat bergelar Datuk,dan berwewenang menyusun satu kerajaan ;rantau-rantau  dibagi oleh raja agar dapat menerima lumut kayu,bunga tanah(pajak bumi) dalam daerah Muara Takus.Datuk Raja Duobalai dan Datuk Bandaro Sati Bangkinang menjalankan peraturan pemerintahannya  di daerah limo kabuong Air dengan pusat Muara Takus dibawah lindungan kedatuan Sriwijaya.Datuk Eajo Duo Balai bapak dari Datuk Bandaro Sati Bangkinang.
 
Dari kajian para pakar dan cerita rakyat serta situs-situs  purbakala yang ada di lokasi Muara Takus sampai Batu Bersurat, kecamatan XIII Koto Kampar –Kab.Kampar-Riau ditemukan sebanyak tujuh stupa, bangunan suci Buda Mahayana; berdasarkan keterangan itu dapat diiventarisasikan julukan untuk kompleks,bangunan itu dilingkungi oleh benteng (sepanjang 4,5 km,menurut Yzerman) disebutnya wilayah itu suatu Kota Suci ;
 
Pada sisi lain pakar berpendapat Muara Takus sebagai pusat pemerintahan kedatuan Sriwijaya ,Adat mempunyai posisi teraju kepemimpinan; juga sebagai pusat pendidikan agama Budha Mahayana; sebagai pelabuhan dagang antara bangsa; penggunaan bahasa Melayu kuno dalam prasasti Sriwijaya menunjukkan pula di Muara Takus bahasa Melayu sudah menjadi bahasa lingua franca di negeri itu ;
 
III. Klarifikasi dan Identifikasi julukan
 
Dari hasil inventarisasi diatas dapat  diklarifikasikan bahwa julukan  yang paling  sesuai dengan Kompleks Stupa Muara Takus ialah Kota Suci agama Budha Mahayana yang terjaga dengan baik karena dilingkungi benteng yang kuat  dan pemerintahannya dibawah  kedatuan Sriwijaya ; budaya  utamanya berbahasa Melayu kuno  yang di akui sebagai bahasa lingua franca; hubungan dagang dengan negara India,China dan  negeri –negeri di Selat Melaka seterusnya pedagang Arab,Persia melanjuntukan hubungan dan mereka membawa pula agama Islam sehingga Islam berkembang pula di wilayah itu ; maka ciri budaya Melayu beragama Islam,beradat Melayu dan berbahasa Melayu; setrusnya negeri ini menjadi pusat pengembangan Islam dan pusat perdagangan pula.
 
Dengan demikian kawasan kompleks Muara Takus masyarakatnya beradat Perpatih sebagai kelanjutan negeri yang dikenal Telaga Undang; Muara Takus menjadi pusat peradaban Melayu  yang telah pula dibahas bahwa Kampar sudah menjadi  Pusat Peradaban Melayu Kuno  seperti rekomendasi Seminar bulan Desember 2014 yang lalu di Bangkinang.Dari uraian diatas dapatlah diteruskan kegemilangan  Muara Takus sebagai  pusat peradaban Melayu  di Nusantara.
 
Dari bahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Julukan terhadap Kompleks Stupa Muara Takus sebagai Kota Suci Agama Budha Mahayana, pusat pemerintahan,pusat pendidikan,pusat perekonomian dan bahasa Melayu kuno dan secara luas sejak penduduk dan pemerintah menganut Islam menjadi  pusat peradaban  Melayu di Nusantara dengan ciri :beragama Islam,beradat Melayu dan berbahasa Melayu.
 
 
Sumber :  www.fib.unilak.ac.id
Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
indragiri