Mewujudkan Kerukunan Masyarakat

Tradisi Ma’awuo Ikan di Danau Bokuok, Kecamatan Tambang

Dibaca: 382 kali  Rabu,01 Mei 2019 | 02:45:15 WIB
Tradisi Ma’awuo Ikan di Danau Bokuok, Kecamatan Tambang
Ket Foto : tradisi Ma’awuo ikan di Danau Bokuok merupakan sebuah pesta rakyat yang sangat ditunggu-tunggu
DALAM masyarakat Desa Aursati dan masyarakat Kecamatan Tambang Umunnya tardisi Ma’awuo ikan di Danau Bokuok merupakan sebuah pesta rakyat yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya dan juga warga masyarakat diluar Kecamatan Tambang dan tradisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari Nilai Tradisi dimana nilai tersebut menjadi pedoman bagi masyarakat untuk menyelengarakan baik sebelum dan sesudah penyelengaraan, pedoman yang menjadi acuan lancarnya proses penyelangaraan Ma’awuo, adapun nilai yang terdapat dalam dalam tradisi Ma’awuo adalah sebagai berikut:
 
Sistem Nilai Agama 
 
Masyarakat Desa Aursati dan Masyarakat Kecamatan Tambang umumnya beraga Islam, sistem nilai keislaman ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mereka sehari-hari daimana dalam setiap aktivitas dan kegiatan yang mereka lakukan selalu menamkan nilai-nilai religius, dalam penyelengaraan Ma’awuo setiap proses yang dilaksanakan selalu dimulai dengan mengucapakan rasa syukur kepada Tuhan, wujud rasa syukur tersebut sebelum semua kegiatan dimulai akan diawali dengan membacakan do,a meminta keridhoan agar acara Ma’awuo berjalan dengan lancar tanpa ada kendala yang berarti yang bisa menganggu jalannya proses Ma’awuo ikan. (Wawancara dengan Abdul Rozak, 23 April 2018).
 
Acara doa bersama biasanya dilakukan sebelum acara Ma’awuo dimalai dalam kegiatan ini peserta terbatas hanya diikuti oleh pemuka masyarakat khususnya Nenek Mamak cerdik pandai yang mewakili persukuan yang ada di Kecamatan Tambang, acaranya ini biasanya diadakan dibalai adat setempat atau bisa juga di rumah salah seorang Nenek Mamak dan juga di Aula kantor Kecamatan. (Wawancara dengan Abdul Rozak, 23 April 2018).
 
Persukuan yang menguasai pengelolaan Danau Bokuok diantaranya adalah Suku Melayu, Suku Chaniago, Suku Pitopang, Suku Mandeliang, Suku Dendang, Suku Kanjuong Gajo, dan Suku Domo, Ninik Mamak dari persukuan tersebutlah yang mengatur segala kebijakan. Dalam mementukan kebijakan dilakukan rapat untuk mencapai kemupakatan, segala aktivitas tidak bisa dilepaskan dalam nilai-nilai keagamaan yang berselogan Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. (Wawancara dengan Abdul Rozak, 23 April 2018). 
 
Sistem Nilai Adat
 
Sistem nilai adat yang diberikan oleh adat merupakan hasil pikiran yang mendalam dari datuk-datuk terdahulu tentang bagaimana sebaiknya kehidupan masyarakat, Danau Bakuok secara geografis terletak di Desa Aursati tapi dalam pengelolaanya mencakup keseluruhan warga masyarakat di Kecamatan Tambang hal ini dibuktikan dengan sistem pengelolaanya dikendalikan oleh datuk-datuk dalam persukuan tersebut. (Wawancara dengan Nazarudin Chaniago, 24 April 2018). 
 
Tugas wewenang dan kewajiban Ninik Mamak dalam persukuan tidak hanya sebatas dalam pengelolaan danau bokuok, lebih jauh dari itu segala aktivitas dan kegiatan yang sifatnya sosial kemasyarakatan diatur dan dikendalikan oleh nilai-nilai adat baik yang tersurat maupun tidak tersurat, seperti tata cara nikah kawin dan lain sebagainya. Walaupun keberadaan Ninik Mamak dalam sistem pemerintahan tidak ada secara strukutural, namum keberadaan mereka sangatlah disegani dan dihormati oleh warga masyarakat. (Wawancara dengan Nazarudin Chaniago, 24 April 2018). 
 
Sistem Nilai Tradisi 
 
Sistem nilai tradisi mencoba membuat keharmonisan antara sesama manusia dan alam, dalam penyelengaraan Ma’awuo ikan di Danau Bokuok sistem Nilai Tradisi ini sangat dijunjung tinggi dan ditonjolkan serta  terpelihara dengan baik, tanpa adanya sistem yang mengatur nilai tradisi keberadaan Danau Bokuok tidak akan terjadi dengan baik hingga saat ini. (Wawancara dengan Azwir, 27 April 2018).
 
Nilai keharmonisan tersebut tercermin dalam kegiatan Ma’awuo dimana tidak ada perbedaan dan kesenjangan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainya dalam Kecamatan Tambang semua mempunyai kesempatan dan peluang yang sama dalam memanfaatkan keberadaan ekosistem khususnya ikan yang terdapat di Danau Bokuok. Antara satu suku dan suku lainnya saling bekerjasama dan bahu-membahu demi terselengaranya Ma’awuo ikan tidak ada suku yang lebih tinggi dan lebih baik dari suku lainnya begitu juga dengan warga masyarakat yang ada dalam persukuan tersebut. (Wawancara dengan Azwir, 27 April 2018). 
 
Dalam melaksanakan Ma’awuo ikan masyarakat yang terlibat didalamnya tidak diperkenankan mengunakan perlatan penangkapan ikan yang bisa merusak ekosistem yang ada di danau bokuok seperti tumbuhan yang ada di danau dan juga ikan dan hewan lainnya yang terdapat dalam danau bokuok. Perlatan yang digunakan dalam penagkapan ikan seperti jala dan perahu sampan dengan cara mendayung tanpa mengunakan mesin yang lebih bersipat modern. Ikan hasil tangkapan panen tersebut merupakan milik warga masyarakat yang ikut terlibat dalam Ma’awuo Danau Bokuok, segala aktivitas tersebut mencerminkan keharmonisan antara sesama manusia dan alam. (Wawancara dengan Azwir, 23 April 2018). 
 
Sistem Nilai Sosial 
 
Sistem nilai sosial adalah segala sesuatu yang dianggap baik, yaitu yang diidam-idamkan oleh warga masyarakat untuk menjaga nilai sosial tersebut maka dibuatlah aturan yang wajib ditaati oleh seluruh warga masyarakat Kecamatan Tambang khususnya dibawah persuakuan diantara aturan tersebut adalah, tidak diperkenankan untuk menangkap ikan jika telah dimulai Ma’awuo, selama waktu yang ditetapkan dilarang menangkap ikan dengan alat tangkap apapun, dilarang membuang sampah ke danau ataupun merusak tumbuhan yang hidup disekitar danau, ketika pelaksanaan Ma’awuo telah dimulai maka yang akan melempar jala pertama adalah pucuk adat, tidak diperkenankan memakai alat yang bersifat memusnakan ikan seperti racun semua masyarakat diperbolehkan menangkap ikan kecuali anak-anak dan hasil tangkapan yang terkumpul menjadi hak pribadi. (Wawancara dengan Abu Bakar, 27 April 2018).
 
Bagi masyarakat yang melakukan pelangaran seperti mengambil ikan diluar waktu yang telah ditentukan maka akan didenda dengan seekor kambing atau kerbau, membersihkan Musholla atau Masjid dan alat tangkap disita, jika ketahuan masyarakat umum yang melempar jala pertama maka ia diperbolehkan untuk mengikuti tradisi tersebut untuk selanjutnya, apa bila ada yang mengunakan racun maka akan dilaporkan kepihak yang berwajib. Sistem nilai sosial yang inilah yang mengatur bagaimana kerukunan bisa terjaga dengan baik. (Wawancara dengan Abu Bakar, 27 April 2018).
 
Tata Cara dalam Tradisi Ma’awuo
 
Selama proses Ma’awuo ikan telah dibuat ketentuan yang mengatur jalannya proses Ma’awuo di Danau Bokuok baik sebelum dan sesudah proses Ma’awuo berikut tata cara Ma’awuo ikan di Danau Bokuok, Musyawarah Adat Dalam pemanfaatannya Danau Bokuok yang di kelola oleh masyarakat adat di Kecamatan Tambang oleh sebab itu masyarakat memberikan kepercayaan dan wewenang kepada Ninik Mamak sebagai kepala suku dari masing-masing persukuan untuk menentukan segala kebijakan yang mengatur tentang proses penyelengraan Ma’awuo ikan di Danau Bokuok. Proses pengambilan keputusan dilakukan dengan cara bermusyawarah yang dilakukan dirumah godang yang berlokasi tak jauh dari pinggiran Danau Bokuok proses musyawarah dilakukan secara terbuka yang bertujuan agar masyarakat bisa mengetahui proses musyawarah tersebut. (Wawancara dengan Azwir, 27 April 2018).
 
Mamucuok 
 
Mamucuok merupakan proses penangkapan ikan yang dilakukan dengan cara tradisional dengan memanfaatkan alat-alat yang bersipat tradisional yang sangat mudah didapat di wilayah Kecamatan Tambang seperti pelepah enau atau daun aren lidi kelapa dan ijuk. Proses Mamucuok ini dilakukan perkelompok antara sepuluh sampai lima belas orang umumnya yang melakukan Mamucuok adalah pemuda yang aktif dimasyarakat.
 
Mamucuok dilakukan di Sungai Kampar untuk mencari ikan yang nantinya dihidangkan pada waktu hari Ma’awuo ikan di Danau Bokuok,  dan juga pada saat rapat yang dihadiri oleh Ninik Mamak semua hasil tangkapan ikan dari Mamucuok semata-mata untuk dijadikan lauk bagi panitia dan juga undangan Ma’awuo ikan di Desa Aursati. (Wawancara dengan Azwir, 27 April 2018).
 
Seiring perkembangan zaman dan pergantian dari waktu ke waktu tradisi Ma’awuo ikan tidak hanya diikuti oleh warga masyarakat Kecamatan Tambang saja namun masyarakat dari luar Kecamatan Tambang yang   datang menyaksikan Ma’awuo juga ikut terlibat menangkap ikan, hal ini secara formal tidak dibenarkan oleh panitia atau Ninik Mamak, tapi pada hari pelaksanaan masyarakat yang hadir jumlahnya sangat banyak tidak memungkinkan untuk melakukan pelarangan tersebut dan apabila dilakukan bisa menyebabkan citra yang kurang baik bagi masyarakat setempat. (Wawancara dengan Azwir, 23 April 2018). 
 
Penyebaran Informasi Kepada Masyarakat
 
Penyebaran informasi ini bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat sehingga mereka mengetahui secara pasti waktu pelaksanaan Ma’awuo, penyebaran informasi ini  pada waktu dahulu sangat penting karena masyarakat di Kecamatan Tambang sangatlah banyak dan daerah geografisnya sangat luas, sehingga banyak masyarakat belum tahu kapan waktu pelaksanaan Ma’awuo dengan pasti karena pada zaman dahulu belum ada perangkat cangih seperti sekarang ini seperti handphone seluler. 
 
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi informasi pengumuman acara Ma’awuo ikan bisa dilakukan dengan sangat mudah dan berbiaya murah, bahkan masyarakat diluar Kecamatan Tambang sekalipun sudah bisa mengetahui lebih dahulu dari pada masyarakat lokal, terutama dengan memanfaatkan media sosial. (Wawancara dengan Azwir, 27 April 2018).
 
Penyebaran informasi biasanya dilakukan di Masjid pada hari jumat sebelum pelaksanaan sholat jumat karena pada waktu itulah masyarakat biasanya hadir kemasjid untuk melaksanakan sholat jumat, cara ini sangatlah efektif karena pada hari-hari yang lain masyarakat biasanya pergi ketempat bekerja kebanyakan masyarakat Kecamatan Tambang pergi keladang dan pada hari jumat adalah waktu mereka libur tidak melakukan aktivitas diladangnya masing-masing. (Wawancara dengan Azwir, 27 April 2018).
 
Dalam menyebarkan informasi tentang waktu pelaksanaan Ma’awuo ikan Danau Bokuok pemerintahan Kabupaten Kampar dibawah dinas Pariwisata sudah memberikan dukungan dengan memasukkan kedalam agenda program kerja sehingga disetiap agenda mereka berupaya untuk mensosialisasikannya.
 
Mendirikan Pondok di Pinggir Danau 
 
Sebelum memasuki hari pelaksanaan Ma’awuo masyarakat akan mendirikan pondok disepanjang pingiriran danau, usaha mendirikan pondok ini biasanya dilakukan secara swadaya dan berkelompok ada juga perorangan, tujuan dari pendirian pondok tersebut berbeda-beda, ada masyarakat yang mendirikan pondok untuk digunakan sebagai tempat berjualan ketika pelaksanaan Ma’awuo diselengarakan. dan ada juga yang memanfaatkan pondok untuk tempat berkumpulnya keluarga besarnya dalam sutu keluarga karena pada saat itu banyak sanak keluarga dan karib kerabat yang pulang dari tanah perantauan untuk menonton dan juga sebagai tempat mengumpulkan ikan hasil tangkapan saat Ma’awuo ikan. Lokasi dan tempat mendirikan pondok telah diatur sedemikan rupa agar acara berjalan dengan baik. (Wawancara dengan Azwir, 27 April 2018).
 
Memasukkan Sampan kedalam Danau 
 
Danau Bokuok sebuah Danau yang terisolir dan tidak terhubung langsung dengan aliran sungai Kampar maka masyarakat harus bergotong royong untuk memasukkan sampan ke dalam danau, dibutukan tenaga manusia antara lima sampai sepuluh orang untuk mengangkat dan memasukkan sampai ke dalam Danau Bokuok. Sampan inilah yang akan digunakan sebagai sarana untuk mobilisasi dalam mengkap ikan dengan mengunakan peralatan seperti jala.
Kedalam danau berkisar antara empat sampai enam meter karena cukup dalam maka harus ditempuh mengunakan sampan jika tidak mengunakan sampan masyarakat hanya bisa melakukan penangkapan dipingir danau saja dan beberapa tempat yang dangkal dengan sangat terbatas jangkauan wilayahnya cara seperti ini sangat tidak maksimal, masyarakat mensiapkan sampan jauh hari untuk mengikuti  Ma’awuo ikan tersebut. (Wawancara dengan Azwir, 27 April 2018).
 
Basiancuong (Berbalas Kata) 
 
Basiancuong salah satu budaya lokal yang umunya ada di Kabupaten Kampar pada saat akan dilaksanakan M’aawuo ikan salah satu tahapannya ialah dengan melakukan Basiancuong. Basiancung bertujuan untuk membuka kata dengan cara berpantun, karena dalam penyelengaraan Ma’awuo melibatkan banyak pihak baik pihak internal seperti Ninik Mamak dari berbagai suku yang ada di wilayah Kecamatan Tambang satu persatu para Ninik Mamak tersebut menyampaikan kata sambutan dari masing-masing suku dengan cara Basiancuong dan juga dalam menyambut tamu undangan yang diistimewakan seperti pejabat pemerintahan mulai dari Bupati dan Gubernur biasanya yang menyambut dan melakukan  Basiancuong diperankan oleh pucuk adat, basiancuong juga lazim dilakukan pada saat acara nikah kawin dan acar adat lainnya di Kecamatan Tambang. (Wawancara dengan Abdul Razak 27 April 2018).
 
Peresmian Acara Ma’awuo Danau Bokuok
 
Puncak dari setiap rangkaian kegiatan Ma’awuo adalah peresmian yang dilakukan oleh pucuk adat dimulainya Ma’awuo ikan tersebut dimulai dengan pelepasan jala pertama oleh pucuk adat dan akan diikuti oleh peserta yang lain khususnya masyarakat Desa Aursati dan Masyarakat Kecamatan Tambang Umumnya. 
Setiap masyarakat tidak dibatasi jumlah dan lama kegiatan selama Ma’awuo ikan, mereka diperbolehkan menangkap ikan sebanyak-banyaknya dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Acara peresmian biasanya dilakukan pada pagi hari diantara pukul Tujuh hingga Pukul delapan pagi. Tahapan yang pertama biasanya dilakukan dengan memukul gong sebagai tanda peresmian acara Ma’awuo sudah dimulai. (Wawancara dengan Azwir, 27 April 2018).
 
 
 
 
Editor : Mahnizar
Akses Halobisnis.com Via Mobile m.halobisnis.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
indragiri